Browse By

Pidato Thariq Bin Ziyad yang mampu menggetarkan Jiwa

Rahasia Pidato Thariq Bin Ziyad

Rahasia Pidato Thariq Bin Ziyad

Musa bin Nushair merasa perlu menguji Pangeran Julian dengan mengirim 500 pasukan tentara di bawah perintah Tharif ke wilayah yang sampai saat ini dinamai Tarifa, di ujung paling selatan Spanyol. Orang Arab menamakannya Jazira Tharif (Terifa). Itu terjadi pada tahun 91 H.   Tharif membawa misi utama, yaitu pengintaian kekuatan Kerajaan Bangsa Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.

Gubernur Musa semakin yakin atas kejujuran Pangeran Julian, setelah Pangeran Ceuta menyiapkan kapal-kapal yang akan digunakan menyerang Spanyol. Dan setetlah mendapat izin Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus, Musa pun mengambil keputusan untuk menyerang Spanyol. Apalagi saat itu Raja Roderick di Toledo sedang menghadapi pemberontakan di utara kerajaannya. Untuk melaksanakan misi itu, Musa memilih seorang Berber, Thariq bin Ziyad, sebagai Komandan.

Panglima Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara, yang mayoritas adalah suku Berber menyeberang Spanyol sekitar tahun 711 M. Ia mendarat dekat gunung batu yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, yang mana Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.

Rahasia Pidato Thariq Bin Ziyad

Rahasia Pidato Thariq Bin Ziyad

Setelah berhasil menyeberang ke Spanyol, tiba-tiba Thariq untuk membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu. Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan lantang berwibawa, dan tegas.

Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;

“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”

Selanjutnya ia berteriak kencang: “Perang atau mati!” Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh anggota pasukannya.

Dan pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12000 personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Pada awalnya pasukan Roderick sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan kanan pasukan Roderick berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan Islam berhasil meraih kemenangan sempurna. Roderick sendiri menghilang, di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan di tepi sungai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *